Hitting the street with strangers. Kegilaan dimulai. Angkot2 berjejal, jumlahnya memang lebih banyak dari jumlah penumpangnya. Saya heran siapa sebenarnya yang mengeluarkan izin trayek, apakah mereka tahu kalau
Bandung
sudah tidak perlu tambahan angkot? Dan apakah mereka tahu kalau kegilaan angkot setiap hari mengancam keselamatan pengguna jalan? Buat saya sendiri mungkin ancaman kesehatan jiwa. Sometimes make u wanna yell..
Kenapa ya susah sekali dibuat tertib? Kemajuan budaya suatu bangsa saya pikir bisa diukur dari ketertiban warganya dalam mengatur dirinya sendiri. Tapi kalau melihat angkot setiap hari rasanya…hhh…kenyataan memang kecut.
Saya sendiri bukan warga sempurna pecinta peraturan, tapi berusaha menjadi warga yang tertib. Saya tidak lupa pasang lampu sein walaupun sepi sekali di dalam kompleks sendiri. Pakai safety belt walaupun hanya menempuh jarak 500m.Saya berhenti di lampu merah walaupun jalan kosong jempling, kecepatan di jalan tol dijaga 70km/jam (min 60, max 80 kata rambu2 disana). Saya tidak pindah2 jalur walaupun jalur saya lebih macet dari jalur sebelah. Saya memberi jalan untuk penyebrang jalan dan mobil lain, tapi bukan untuk penyalip. Membuang sampah pada tempatnya. Sebisa mungkin kalau belanja minta ga pake bungkus plastik (di Gramedia ga boleh). Selalu cuci kaki sebelum tidur dan ga pake sendal jepit kalau pergi ke bumi sangkuriang J
Memang pernah juga saya ceroboh menyenggol vespa didepan saya karena sedang sibuk ngetik sms..untunglah mas vespa sehat wal afiat dan tidak marah, malah ia sibuk menenangkan saya yang rusuh minta maaf. “udah mbak ngga apa2 ko, namanya juga kecelakaan..” waah…korban impian…bukan main..sejak itu saya tidak pernah lagi smsan sambil nyetir.
Ada
beberapa kecerobohan lain termasuk soal waktu yang masih suka ngaret, dan menunda2 belajar sampai menjadi ‘terpaksa belajar’..tapi masih berusaha untuk ditertibkan.
Kembali pada angkotisme. Apakah iya ketertiban berbanding lurus dengan tingkat pendidikan? Kadang2 saya berpikir ‘sudahlah namanya juga angkot, kalau mereka pintar pasti sudah jadi pengacara’. Tapi kalau mengingat mobil2 mewah yang menyalip dari sebelah kiri atau berjalan kencang di bahu jalan tol..rasanya teori itu luluh dengan mudah. Jadi apa dong yang ngaruh?
Apa iya satu2nya cara adalah toleran dan menurunkan ekspektasi?
Saya ingat Opa Paul menasehati saya supaya tetap optimis berharap dari negeri ini.
Kayaknya memang harus berbekal kesabaran-tingkat-tinggi..
Seperti saya juga harus sabar terhadap perbaikan diri sendiri yang kadang-kadang mampet..tetap ceroboh dan grasa-grusu..
Tapi gapapa, walaupun sdikit2 tapi making progress..otw menuju destinasi..
Ayo sama-sama. J